Jakarta Lebih Kejam Dari Ibu Tiri

Friday, September 2, 2016 0 comments


Berani atau Menyerah Menghadapi Hidup

#jelajahwaktu


Masih teringat jelas gambaran kehidupanku saat bekerja di ibukota, Jakarta. Tempat yang luas, tempat yang memberikan banyak peluang bagi yang bersungguh-sungguh berniat mengais-ngais rejeki di kota metropolitan. Jakarta terkenal sebagai kota yang super sibuk, tidak ada perbedaan antara pagi, sore dan malam. Kendaraan tidak pernah sepi melewati setiap jalur yang ada. Kemacetan adalah bagian dari kehidupan di Kota Jakarta yang pongah.

Aku hanyalah bagian dari butiran debu di Jakarta, tidak ada yang spesial dengan diriku. Aku ke Jakarta bukan sedang mencari jati diri tetapi mencari pekerjaan. Mencoba mengubah kehidupan dari zona nyaman menjadi zona “perang”. Perang batin apakah tetap bertahan di kota yang penuh dengan polusi kendaraan, polusi moral. Kenapa bisa aku berkata eh berpikiran seperti itu. Itu bukanlah tanpa alasan, sebab memang benar adanya. Coba saja, naik angkutan kota (angkot). Tiap 10 menit selalu saja bergantian datang pengemis dari perorangan maupun rombongan. Gaya bicara mereka bermacam-macam, mulai dari bernyanyi, berpura-pura tidak bisa berbicara dan juga ada dengan nada mengancam.

source: en.wikipedia
Masih teringat jelas, saat itu, aku baru mulai bekerja dan kebetulan malam doa (setiap rabu) di gereja. Berhubung, saat itu tidak terlalu lama mendapatkan busway. Sehingga aku bisa menghadiri acara doa. Pulangnya kemalaman, antara naik busway atau naik angkot. Berhubung, jarak antara tempat aku berdoa dengan rumah hanya berjarak beberapa kilo. Kalau naik angkot bisa dipastikan aku akan mendapatkan tempat duduk. Jika aku memilih naik busway, selain menunggunya lama dan kemunginan tidak mendapatkan bangku sangat besar.

Sehingga aku memutuskan naik angkot. Benar saja di persimpangan lampu merah. Angkot yang aku tumpangi berhenti, tentunya. Lalu, naiklah seorang pengamen. Dari gayanya sudah setengah mabuk. Ditambah aroma yang tidak menyenangkan. Di dalam angkot hanya ada aku seorang sebagai penumpangnya. Seperti biasa, ia meminta uang. Aku menolak tidak memberikannya, karena memang benar adanya, aku tidak memiliki uang lebih. Soalnya, aku baru mendapatkan pekerjaan.

“Minta uangnya mbak, untuk makan,” ujar pria setengah mabuk itu.

“Sama mas, saya juga belum makan,” jawabku, “Aku aja masih mencari kerja disini.”

“Masa tidak ada uang,” katanya setengah memaksa.

“Memang tidak ada uang. La, saya juga masih pengangguran,” ucapku setengah berbohong. Soalnya kan baru dapat kerja, jadi belum dapat bayaran. Itu aja masih hari pertama kerja heheh.

Uang pun hanya cukup untuk membayar angkutan. Ia marah dan menghembuskan nafasnya yang beraroma alkohol. Berkata-kata yang tidak sopan. Untunglah, tiba-tiba di belakang angkot kami berhenti angkot yang banyak penumpangnya. Dia pun segera pergi sambil mengomel dan mendatangin angkot di belakang kami. Pak angkot melihat kepadaku, antara ngeri dan bersyukur. Untung tidak terjadi apa-apa padaku. “Ini Jakarta, kalau mbak nggak kasih mereka. Mereka suka bertindak tidak sopan.” Begitulah kata pak angkot.

Aku hanya tersenyum saja, tetapi sumpah sebenarnya aku sangat takut. Tetapi apa daya, aku memang sedang tidak memiliki uang lebih. Aku harus pandai-pandai mengatur keuangan sebelum mendapatkan bayaran. Hasil kerja kerasku. Hidup di Jakarta itu sangat keras. Beragam kisah akan memenuhi buku harian setiap orang antara suka dan duka, kekejaman dan kebahagiaan. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia hidup di dalam kekejaman ibukota. Mama selalu berujar, “Jakarta lebih kejam dari ibu tiri.”

Awalnya aku hanya menertawakan perkataan sang mama. Pasalnya, aku selalu tidak pernah mempercayai sesuatu sampai aku melihatnya sendiri. Karena bagiku, kehidupanku saja sudah kejam. Jadi ditambah kekejaman “ibu tiri” tidak ada salahnya. Biarlah, semua berjalan sebagaimana takdir kehidupan akan membawaku. Asalkan satu, aku tetap di jalur yang benar, tidak pernah menyerah. Apapun percobaan yang datang dan pergi silih berganti. Terkadang meninggalkan ruang kosong dan hampa, bahkan kepedihan dan kegembiraan. Namun yang pasti, nikmatin saja hidup sebagaimana adanya. Karena kepedihanku bukanlah kepedihan mereka, begitu juga sebaliknya.

Salam





Citra Pandiangan

http://www.kotacinta.com/2016/09/jakarta-more-ruthless-from-step-mom.html



0 comments:

Post a Comment

You've decided to leave a comment – that's great! Please keep in mind that comments are moderated and please do not use a spammy keyword. Thanks for stopping by! and God bless us! Keep Smile and Lovely Day